Data pribadi itu nilainya sering tidak kita sadari sampai jatuh ke tangan yang salah. Nomor HP, alamat email, tanggal lahir, sampai foto bisa dirangkai jadi profil yang dipakai untuk menebak password, membobol akun, atau menipu orang yang kamu kenal dengan mengatasnamakan kamu.
Mengamankannya tidak butuh keahlian khusus. Yang dibutuhkan cuma beberapa kebiasaan yang dijalankan konsisten. Berikut yang paling berpengaruh.
Setiap data yang kamu sebar di internet ibarat jejak yang sulit ditarik kembali. Begitu sebuah informasi terunggah, kamu kehilangan kendali atas ke mana ia akan menyebar.
Jadi sebelum mengisi formulir atau memposting sesuatu, tanya dulu: apakah ini benar-benar perlu? Banyak layanan meminta data lebih dari yang sebenarnya mereka butuhkan. Kamu boleh mengisi yang wajib saja dan melewati sisanya. Hindari juga memasang tanggal lahir lengkap atau alamat rumah di profil publik, karena itu bahan empuk untuk penyalahgunaan.
Banyak aplikasi minta akses yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan fungsinya. Aplikasi senter yang minta akses kontak, atau game yang minta akses lokasi terus-menerus, itu pertanda yang perlu dipertanyakan.
Sempatkan sesekali membuka pengaturan izin di HP-mu. Cabut akses yang tidak masuk akal. Aplikasi tetap jalan normal, tapi data yang bisa mereka ambil jadi jauh lebih terbatas.
Kebiasaan yang baik: tiap kali memasang aplikasi baru, perhatikan izin apa yang dia minta saat pertama dibuka. Kalau permintaannya terasa berlebihan untuk fungsi aplikasinya, itu alasan yang cukup untuk berpikir ulang sebelum melanjutkan.
Pelaku penipuan sering menyamar jadi pihak resmi untuk memancing data. Mereka bisa mengaku dari layanan pelanggan, bank, atau bahkan teman yang akunnya diretas. Lalu mereka meminta sesuatu yang sensitif dengan alasan yang terdengar masuk akal.
Pegang prinsip ini: pihak resmi tidak akan meminta password atau kode verifikasimu lewat chat atau telepon. Kalau ada yang meminta itu, sebesar apa pun dia terlihat meyakinkan, hampir pasti itu penipuan. Tutup percakapannya, lalu hubungi pihak resmi lewat kanal yang kamu temukan sendiri, bukan nomor yang dia berikan.
Data pribadi yang bocor sering datang dari akun lama yang sudah lupa kamu punya. Akun yang tidak dipakai bertahun-tahun tetap menyimpan datamu, dan kalau layanan itu kebobolan, datamu ikut terbawa.
Menjaga data pribadi itu bukan satu tindakan besar, tapi sikap yang dipelihara. Bagikan seperlunya, periksa siapa yang punya akses, dan jangan pernah menyerahkan data sensitif ke pihak yang datang meminta lebih dulu. Sebagian besar masalah berhenti di kebiasaan-kebiasaan ini.